Go to content Go to navigation Go to search

Orientalis Terbalik

(Orientalist in Reverse)

By Luthfi Assyaukanie

Source: Tempo, 4 August 2002

Kecenderungan orientalisme terbalik akhir-akhir ini tampak semakin menggejala pada para aktivis dan pemimpin Islam di Tanah Air. Seorang aktivis Islam yang berafiliasi kepada sebuah lembaga dakwah nasional mengatakan bahwa pluralisme bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang jelas-jelas bersikap tegas dan keras terhadap kaum non-Muslim. Sang aktivis tersebut mengkritik para pendukung gagasan pluralisme Islam seraya mengatakan bahwa gagasan pluralisme hanya akan membuat Islam semakin lemah.

Seorang pemimpin Islam lainnya yang mengetuai sebuah gerakan Islam yang belakangan sering disorot media juga mengatakan bahwa demokrasi tak sesuai dengan Islam karena sistem ini ciptaan manusia dan karenanya bertentangan dengan ajaran Islam yang sepenuhnya berasal dari Allah. Pemimpin Islam lainnya mengatakan bahwa sekularisasi bertentangan dengan Islam. Islam tak mengenal sekularisme dan karenanya akan selalu menolak gagasan sekularisasi.

Orientalisme terbalik (al-istisyraq al-ma’kus, orientalism in reverse) adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh Sadik Jalal al-Azm, intelektual Suriah. Al-Azm menggunakan istilah itu untuk mengkritik Edward Said dan bukunya, Orientalism, yang menurutnya, sama seperti kaum orientalis, berangkat dari prejudis budaya dan penjelasan-penjelasan reduksionis. Oleh beberapa intelektual Arab lainnya, seperti Dr. Mona Abaza, istilah “orientalisme terbalik” kemudian digunakan untuk melihat gejala serupa pada para tokoh Islam yang anti terhadap pembaruan.

Sama seperti para orientalis, tokoh-tokoh Islam itu menganggap bahwa Islam tak sejalan dengan gagasan-gagasan modern seperti demokrasi, pluralism, hak asasi manusia, sekularisasi, dan semacamnya. Islam adalah agama yang unik, yang berbeda dari agama-agama dunia lainnya. Islam tak bisa disamakan dengan agama lain, khususnya Kristen, yang bisa menerima konsep-konsep baru produk modernitas.

Saya kira, fenomena orientalis terbalik tak hanya terjadi di dunia Arab saja. Di Indonesia, para orientalis terbalik tampaknya semakin mewabah. Mereka memang bukan orientalis dalam pengertian yang sesungguhnya, yakni pengkaji dan ahli masalah-masalah ketimuran dan keislaman dari Barat. Tapi saya kira, sama seperti orientalis, mereka adalah ahli dalam masalah-masalah keislaman, dan—juga sama seperti orientalis— mereka membela secara membabi-buta terhadap otentisitas Islam.

Bagi para orientalis Barat, Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang arkaik, Islam yang punya aura arkeologis, yang eksotis, yang lampau. Sedangkan Islam yang baru adalah bukan Islam, seperti dengan tepat diungkapkan Lord Cromer, komisionaris Inggris di Mesir, “Islam reformed is Islam no longer” (Islam yang telah direformasi adalah bukan lagi Islam). Bagi sebagian pemimpin Islam, Islam yang benar hanya satu, yakni Islam yang otentis, Islam yang orisinal, Islam masa silam. Islam modern adalah Islam palsu, Islam yang jauh dari otentisitas.

Saya kadang berpikir, apa bedanya para aktivis dan tokoh Islam itu dengan Donald Eugene Smith, ahli India dan Islam, yang sama-sama menyatakan bahwa sekularisasi dan sekularisme adalah konsep yang bertentangan dengan Islam dan karenanya “tidak relevan berbicara tentang sekularisme dalam Islam” (Smith, India as a Secular State, 1963). Apa bedanya para tokoh Islam itu dengan Samuel Huntington, pengamat politik asal Harvard, yang mengatakan bahwa Islam adalah sebuah anomali dari demokrasi Barat (Huntington, the Clash of Civilizations, 1993)?

Argumen-argumen orientalis terbalik, sama seperti orientalis beneran yang secara membabi buta menyerang Islam, tentu saja tak punya dasar yang cukup kuat jika kita melihat Islam secara historis dan sosiologis. Para orientalis dan orientalis terbalik pasti menolak argumen sosiologis dan historis, karena ini, menurut mereka, bertentangan dengan otentisitas Islam. Tapi, tentu saja kelemahan dari penolakan itu adalah meletakkan Islam dalam ruang hampa. Mengandaikan Islam yang selalu orisinal, antik, dan otentik, sama artinya dengan membuang sebagian besar sejarah Islam.

Bagaimana menjelaskan peradaban Islam dalam rentang sejarah yang panjang itu di mana unsur-unsur sekular berkelindan di dalamnya? Bagaimana menjelaskan realitas sosiologis umat Islam modern yang berusaha menerapkan konsep-konsep baru yang di dalam “Islam otentik” tak pernah disebutkan? Saya cenderung meyakini bahwa realitas sosiologis dan historis adalah upaya umat Islam menafsirkan ajaran-ajaran Islam yang progresif dan dinamis. Realitas sosiologis dan historis adalah tafsir hidup terhadap Islam otentik yang ada dalam imaginasi setiap kaum Muslim.

Tak ada yang salah dari realitas sosiologis. Ketika sebuah negara Muslim berusaha menerapkan demokrasi, menjunjung tinggi pluralisme, dan mengakui deklarasi HAM, ini tidak serta-merta negara tersebut sedang menjauh dari otentisitas (al-ashalah). Upaya tersebut adalah sebuah tafsir terhadap “Islam otentik” dan sebuah upaya untuk selalu menjaga –apa yang disebut oleh Muhammad Iqbal, filsuf asal Pakistan—prinsip dinamika Islam.

Para orientalis terbalik menganggap bahwa sejarah adalah mata rantai deviasi terhadap otentisitas dan terhadap Islam klasik. Ia tak akan pernah menjadi model ideal bagi umat Islam. Sejarah adalah kumpulan penyimpangan terhadap apa yang sudah digariskan oleh al-sabiquna al-awwalun (orang-orang pertama dulu) dan al-salaf al-shalih (orang-orang salih).

Saya kerap merasa, orientalis sungguhan dan orientalis terbalik sama-sama berbahaya bagi keberlangsungan modernisme Islam.

21 May 2010, 07:00