Paramadina Setelah 20 Tahun
(Paramadina After 20 Years)
By Luthfi Assyaukanie
Source: Jawa Pos, 03 Desember 2006
Minggu-minggu ini, Paramadina merayakan miladnya yang ke-20. Berbagai acara digelar untuk meramaikan ulang tahun ini, dari diskusi publik, bedah buku, workshop, pementasan seni, hingga talkshow di radio dan televisi. Semua kegiatan ini bermuara pada satu semangat, yakni merayakan kebebasan dan menekankan pentingnya akal-pikiran.
Di tengah maraknya konservatisme agama dan meruyaknya kekerasan atas nama Islam, perayaan milad Paramadina terasa penting; paling tidak untuk mengingatkan akal sehat kita semua bahwa masih ada lembaga Islam yang mengambil jalan damai, mendukung toleransi, menghormati keragaman, dan menjunjung kebebasan.
Sejak didirikan 20 tahun silam, Paramadina memang diniatkan menjadi semacam “dar al-hikmah” bagi bangsa Indonesia. Nurcholish Madjid, tokoh penting di balik berdirinya yayasan ini, adalah seorang intelektual yang menganggap pemikiran sebagai elemen penting bagi kemajuan dan dinamika masyarakat. Tanpa pemikiran, masyarakat akan mandek dan berjalan di tempat.
Tentu saja, Paramadina bukanlah yang pertama dan satu-satunya lembaga pemikiran di Indonesia. Tapi, sejauh menyangkut pemikiran keislaman, boleh dibilang Paramadina adalah katalisator dan eksponen terdepan. Pada pertengahan tahun 1980an, ketika sebagian besar kaum Muslim merasa complacent (puas) dengan penafsiran agama mereka, Paramadina datang dengan pandangan-pandangan baru yang menggugah dan mencerahkan.
Tentu saja, Paramadina tak bisa dipisahkan dari nama Nurcholish Madjid, yang sejak awal tahun 1970-an, menggebrak pentas wacana pemikiran di Indonesia. Pandangan-pandangan keagamaan dan juga sosial-politik Cak Nur (begitu dia biasa dipanggil), melampaui zamannya. Karenanya, tak jarang, pandangan-pandangannya memicu kontroversi dan penolakan dari sebagian tokoh Islam.
Ketika didirikan, Paramadina didesain sebagai lembaga pemikiran, dan bukan lembaga politik. Sebagai lembaga pemikiran, Paramadina berusaha menampung dan mengakomodasi seluruh jenis pemikiran yang berkembang di Indonesia. Karenanya, dalam diskusi dan kursus-kursus keagamaan yang diselenggarakannya, berbagai aliran pemikiran mendapat tempat, dari Sunni, Syi’ah, Ahmadiyah, hingga aliran-aliran pemikiran lainnya.
Paramadina juga membuka diri untuk setiap perdebatan spekulatif, dari persoalan teologi, filsafat, hingga teori-teori yang berkembang dalam studi agama dan ilmu sosial. Singkat kata, Paramadina menjadi tempat pertukaran gagasan dan persemaian ide-ide.
Sebagai lembaga pemikiran, Cak Nur menyadari betul bahwa kebebasan haruslah menjadi landasan utama Paramadina. Tidak boleh ada represi dan ancaman untuk setiap gagasan pemikiran, seliar apapaun pemikiran itu. Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, Cak Nur menyebutkan pentingnya menghormati pendapat, sekalipun pendapat itu bertentangan dengan keyakinan paling mendasar kita.
“Jika Tuhan saja membebaskan seseorang untuk menjadi ateis, maka tidak ada hak bagi manusia untuk melarang ateisme.” Begitulah pernyataan yang kerap dilontarkan Cak Nur. Dengan keyakinan semacam ini, Paramadina menjadi pusat pemikiran yang menjadi gravitasi bagi anak-anak muda Islam. Sebagai segmen masyarakat yang sedang tumbuh yang memiliki keingintahuan yang tinggi, anak-anak muda Islam merasa mendapatkan tempat di Paramadina.
Milad ke-20 Paramadina tahun ini sesungguhnya memiliki arti penting. Di tengah meruyaknya konservatisme agama yang ditandai fatwa-fatwa MUI yang tidak bermutu, ulang tahun kali ini bisa dijadikan momentum penegasan jati-diri Paramadina sebagai lembaga pemikiran, dan bukan lembaga agama yang ingin mengusung satu pemahaman tertentu.
Tantangan terbesar Paramadina sekarang ini, menurut hemat saya, adalah sejauh mana lembaga ini bisa mempertahankan kebebasan berpikir, sebuah gagasan luhur yang menjadi raison d’etre pendiriannya. Universitas Paramadina menjadi tolok-ukur terdepan bagi gagasan ini.
Dalam berbagai kesempatan, Cak Nur menginginkan Universitas Paramadina sebagai centre of excellence, sebagai pusat ilmu pengetahuan, dan bukan sebagai pusat dakwah keagamaan. Universitas bukanlah mesjid tempat orang beribadah dan menyebarkan keyakinan agama. Universitas juga bukan lembaga politik untuk merekrut dukungan dan menyiapkan modal material.
Setiap usaha untuk menjadikan Universitas Parmadina sebagai lembaga keagamaan adalah pengkhianatan terhadap misi awal pendirian institusi ini. Setiap upaya untuk menjadikan Paramadina sebagai tempat rekrutmen dan penyebaran ideologi politik adalah penghinaan terhadap cita-cita dasar lembaga ini.
Para pengelola dan pengurus Paramadina, baik di Yayasan maupun di Universitas sudah semestinya menyadari hal ini. Semoga Milad ke-20 ini menjadi momentum bagi mereka untuk berefleksi dan mencari jalan terbaik untuk terus memajukan lembaga yang telah berjasa dalam meramaikan wacana kebangkitan dan pencerahan Islam di Indonesia ini.
14 October 2008, 15:56
Paramadina setelah 20 tahun wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan:
1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab.
2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab.
3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan Al Quran berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia.
4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya Allah membangkitkan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama agar menjadi golongan Allah dalam Agama Allah dan Allah rido manusia rido bershahadat tauhid bukan shahadatain sesuai Az Zumar (39) ayat 45.
5. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Datangnya Allah menciptakan Agama Allah sebagai wadah persepsi agama yang telah terpecah menjadi 73 firqah menjadi satu persepsi tunggal agama dengan berbondong-bondong masuk kedalamnya.
6. Al Baqarah (2) ayat 148: Datangnya Allah PASTI mengumpulkan berbagai persepsi agama ciptaannya 73 firqah menjadi satu persepsi tunggal agama memenuhi An Nahl (16) ayat 93.
Bilamana hal ini telah datang, maka tidak ada lagi perselisihan persepsi agama.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
— Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama mill Oct 23, 09:10 PM #