Salman Rushdie dan Citra Islam
By Luthfi Assyaukanie
Source: Media Indonesia, 26 June 2007
Gelombang protes dari Iran, Pakistan, hingga Malaysia terhadap penganugrahan gelar bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie mengejutkan kita betapa kaum Muslim belum bisa melupakan dan memaafkan pengarang Ayat-Ayat Setan itu. Meski protes itu tidak sebesar 20 tahun silam, ketika Rushdie difatwa mati oleh Ayatullah Khomeini, gelombang protes itu tetap menyentak betapa kaum Muslim tak pernah bisa mentolerir hal-hal yang mereka pandang sebagai “penodaan agama.” Nama Salman Rushdie, bagaimanapun tidak bisa dilepaskan dengan novelnya yang dianggap telah menghina Islam itu.
Reaksi kaum Muslim itu melengkapi daftar panjang kasus-kasus menyangkut hubungan Islam dan kebebasan berekspresi. Kita masih ingat, beberapa bulan silam, gelombang reaksi serupa juga pecah memprotes pemuatan kartun Nabi Muhammad di sebuah koran di Denmark. Dalam kasus itu, puluhan orang bahkan jadi korban, beberapa kedutaan besar hancur, dan ratusan kendaraan hangus dibakar. Reaksi kaum Muslim terhadap kasus kebebasan berekspresi tampaknya memiliki pola yang sama: mengumbar kemarahan dan kekerasan.
Bagi sebagian orang, reaksi itu tentu saja cukup mengkhawatirkan, karena bukan hanya menyangkut persoalan hubungan Islam dan kebebasan berekspresi, tapi menyangkut citra Islam yang sedang terus diusahakan untuk diperbaiki. Sejak serangkaian aksi terorisme dan kekerasan yang melibatkan orang Islam beberapa tahun terakhir, gerakan untuk memperbaiki citra Islam terus dilakukan, baik oleh para intelektual Muslim dan beberapa sarjana Barat yang berempati terhadap Islam.
Minggu silam, saya menghadiri ceramah Karen Arsmtrong di sebuah ballroom hotel di Singapura yang dipadati hampir seribu orang. Dalam pidato itu, Armstrong yang dikenal sangat simpatik terhadap Islam menceritakan bahwa sejak peristiwa 9/11 ia tak kenal lelah berkeliling dati satu forum ke forum lain, untuk menjelaskan apa itu Islam dan mengoreksi salah-paham sebagian orang Barat terhadap agama ini. Menurut pengarang buku Sejarah Tuhan ini, “aksi-aksi terorisme belakangan ini bukan disebabkan oleh doktrin Islam, tapi oleh kepentingan politik dan ideologi tertentu.”
Reaksi yang begitu massif di hampir semua negeri Islam terhadap kasus-kasus kebebasan berekspresi (baik kasus Salman Rushdi maupun kasus Kartun Nabi Muhammad) pasti sangat merepotkan Armstrong dan sungguh menyulitkan para sarjana dan siapa saja yang berusaha memperbaiki citra Islam. Kampanye bahwa Islam adalah agama yang toleran, ramah, dan menghormati kebebasan, akan dibenturkan dengan fakta kekerasan dan kebrutalan yang terus dipertontonkan dalam setiap reaksi menentang apa yang dianggap sebagai “penodaan agama.”
Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon serupa dalam dunia Kristen atau agama-agama lain; kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan. Kita tidak pernah mendengar, misalnya, Vatikan atau lembaga-lembaga otoritatif agama Kristen, mengeluarkan semacam fatwa mati ke atas Dan Brown, pengarang Kode Da Vinci. Kita juga tidak melihat aksi-aksi kekerasan dan kebrutalan yang dipertontonkan kaum Kristen ketika merespon novel itu.
Benar ada sejumlah reaksi yang dilakukan komunitas Kristen terhadap novel itu. Tapi, secara umum, reaksi itu berjalan damai. Dan Brown merasa aman-aman saja memenuhi berbagai undangan dan seminar. Berbeda sekali dengan Salman Rushdie, yang harus bersembunyi setidaknya lima tahun, akibat fatwa mati Ayatullah Khomeini. Beberapa penerbit novel Rushdie juga tak lepas dari kemarahan kaum Muslim. Sebagian mereka dibunuh dan lainnya mengalami berbagai tindak kekerasan.
Mengapa reaksi kaum Muslim begitu berlebihan dalam menyikapi setiap isu “penodaan agama?” Ada banyak penjelasan tentang ini. Ada yang berpendapat bahwa respon kaum Muslim menunjukkan bahwa mereka tidak memahami konsep kebebasan berekspresi. Pendapat lain mengatakan bahwa kaum Muslim masih sangat kuat dipengaruhi doktrin-doktrin keagamaan lama. Ada yang berpendapat bahwa reaksi itu merupakan ungkapan kemarahan atas situasi sosial-politik yang tidak adil dan reaksi terhadap hubungan Islam dan Barat secara umum. Ada juga yang berpendapat bahwa reaksi itu menunjukkan watak dasar kaum Muslim yang membenci Barat dan dunia modern.
Apapun penjelasan itu, reaksi berlebihan kaum Muslim terhadap setiap kasus kebebasan berekspresi sudah saatnya menjadi bahan renungan dan pemikiran para tokoh dan pemimpin Islam. Kita tidak ingin menjadi komunitas agama yang aneh sendirian di dunia ini. Agama-agama lain memiliki sikap yang jauh lebih elok dibandingkan reaksi-reaksi yang diperlihatkan kaum Muslim selama ini dalam setiap isu menyangkut kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat.
Saya tidak hanya sedang merujuk kasus-kasus penodaan agama yang dilakukan di Barat (seperti kasus Kartun Nabi Muhammad), tapi juga kasus-kasus yang terjadi dalam komunitas Islam sendiri. Kita kerap menjumpai reaksi berlebihan kaum Muslim dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam persoalan agama; di Mesir, di Pakistan, di Afghanistan, di Indonesia, semuanya sama saja. Perbedaan pendapat dalam beragama, khususnya menyangkut isu-isu yang dianggap fundamental, kerap disikapi secara sangat berlebihan. Jika bukan dengan pembunuhan, maka terjadi pembakaran, perusakan, dan tindak kekerasan lainnya.
Sikap-sikap reaksioner seperti itu tentu saja patut disayangkan. Tapi yang lebih patut disayangkan adalah sikap para tokoh dan organisasi Islam yang mendiamkan saja masalah ini terus terjadi. Lebih mengkhawatirkan lagi jika ada tokoh yang secara diam-diam mengambil manfaat dan keuntungan dari situasi ini.
Saya terus terang terkejut dengan sikap Wahid Institute, sebuah lembaga yang sangat terhormat, mengeluarkan pernyataan yang intinya seolah mendukung kemarahan kaum Muslim terhadap pemberian gelar kebangsawanan terhadap Salman Rushdie (Jakarta Post, 23/6). Saya bukan pembela atau pendukung Salman Rushdie. Sama sekali bukan. Tapi sikap seperti yang ditunjukkan Wahid Institute itu, saya kira, keliru.
Sikap-sikap reaksioner kaum Muslim saya kira tidak akan pernah berubah jika para tokoh Islam tidak serius menanganinya. Setiap ada kasus-kasus menyangkut kebebasan berekspresi yang menimpa Islam, saya selalu merasa waswas dengan reaksi yang akan muncul. Beberapa hari lalu saya benar-benar tersudut dan malu dengan pertanyaan seorang teman non-Muslim: “Bukankah Islam agama pemaaf? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Kenapa setelah 20 tahun kaum Muslim masih terus saja membenci Rushdie?”
Luthfi Assyaukanie. Peneliti Freedom Institute, Jakarta
14 March 2009, 10:10