Tantangan “Islam Hadhari”
(The Challange of "Islam Hadhari")
By Luthfi Assyaukanie
Source: Media Indonesia, 28/07/2006
Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, pada Senin kemarin (24/7) dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, karena kontribusinya dalam menyebarluaskan gagasan kemajuan Islam. Badawi memang dikenal sebagai tokoh nomor satu di Malaysia yang sangat peduli dengan wacana kemajuan Islam di negeri jiran itu. Dia tercatat sebagai orang yang memperkenalkan istilah “Islam Hadhari.”
Pak Lah, panggilan akrab Badawi, menggulirkan gagasan Islam Hadhari sekitar dua tahun lalu, ketika gelombang fanatisme meruyak di Malaysia dan juga kawasan Asia Tenggara. Maksud “Islam Hadhari” adalah Islam peradaban, yakni Islam yang menjadikan kemajuan dan ilmu pengetahuan sebagai model bagi masyarakat Muslim modern. Islam Hadhari berbeda secara diametral dengan “Islam radikal” atau “Islam puritan” yang menggunakan cara-cara kasar dan cenderung intoleran untuk mewujudkan aspirasinya.
Peradaban Islam selalu menjadi obsesi dan cita-cita tertinggi para pembaru Muslim. Sejak awal abad ke-19, para pembaru Muslim berbicara tentang pentingnya menghidupkan kembali peradaban Islam. Obsesi terhadap kemajuan dan ilmu pengetahuan membuat mereka mencari model yang ideal bagi kaum Muslim modern. Dan model yang ideal itu bukannya negara-negara Barat, tapi peradaban Islam di masa silam.
Seperti diketahui, Islam pernah mengalami masa kejayaan sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 M. Buku-buku sejarah mencatat masa itu sebagai “era keemasan” (the golden age) Islam. Ketika orang-orang Barat sedang menjalani masa kegelapan (dark ages), kaum Muslim berada dalam puncak peradaban di mana ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni menjadi ikon kemegahannya.
Pada masa itulah muncul tokoh-tokoh jenius besar Islam, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Razi, Ibn al-Rawindi, Ibn Haitham, Al-Khawarizmi, dan Ibn Rushd. Berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, astronomi, matematika, dan filsafat berkembang dengan pesat, persis seperti peradaban Barat di era modern. Seperti dikatakan Marshal Hodgson, seorang sejarahwan ternama dari Chicago University, peradaban Islam pada masa itu bagaikan sebuah obor di malam yang gelap gulita.
Islam Dibajak. Abdullah Badawi secara sadar ingin mengulangi kejayaan Islam seperti pada masa-masa keemasan itu. Di tengah munculnya kelompok-kelompok Islam yang keras dan aksi-aksi teror yang mengatasnamakan agama, Pak Lah ingin memberikan alternatif bagi kaum Muslim modern untuk menjadikan “Islam peradaban” sebagai model kemajuan. Malaysia adalah negara yang sangat antusias ingin menjadikan Islam sebagai elemen penting dalam mendorong kemajuan dan modernisasi.
Sejak era Mahathir Mohammad, proyek “Islam peradaban” mendapat perhatian yang luar biasa. Malaysia adalah negeri Islam kedua setelah Pakistan yang bersedia mendirikan Universitas Islam Internasional (gagasan yang ditolak Soeharto) dan secara terbuka memberikan tempat bagi proyek ambisius Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang digagas Ismail al-Faruqi, seorang intelektual Muslim keturunan Palestina.
Keinginan untuk membangun dan mengembalikan peradaban Islam tampak terlihat jelas dari berbagai megaproyek intelektual Islam di sana, seperti pendirian Institute Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) yang digagas Mahathir dan the International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang disokong Anwar Ibrahim. Semangat “Islam peradaban” itu bahkan sangat terasa jika kita memasuki gedung ISTAC, yang didominasi arsitek dan ornamen Islam abad pertengahan.
Namun, sejak perseteruan Mahathir dan Anwar Ibrahim pada tahun 1998, proyek “Islam peradaban” terbengkelai dan mengalami ancaman serius dari kaum konservatif. Istilah “Islam Hadhari” yang dimunculkan Badawi, saya kira, merupakan penegasan dan sekaligus kekhawatiran dengan megaproyek peradaban Islam yang telah dirintis Mahathir dan Anwar itu.
Proyek “Islam Hadhari” sesungguhnya tengah mengalami tantangan serius, karena lembaga-lembaga penting (think tank) yang berada di balik gagasan ini, kini diambil-alih dan dikuasai kaum konservatif yang berorientasi pada Wahabisme dan Talibanisme. Universitas Islam Internasional kini dikenal sebagai pusat persemaian gagasan-gagasan Wahabi dan menjadi satelit bagi tokoh-tokoh puritan Timur Tengah dan Asia Selatan.
Begitu juga, ISTAC, yang pernah dikenal sebagai “sepotong Cordova di Damansara” (Damansara adalah kawasan elit tempat ISTAC berdiri) kini menjadi lembaga yang dikuasai kaum puritan yang terobsesi dengan ide negara Islam model Iran, Sudan, dan Taliban. Lembaga pemikiran yang pernah mengundang para filsuf dan sarjana besar seperti Seyyed Hosein Nasr, Abdul Karim Soroush, dan Mehdi Mohageg untuk mengajar ini, kini menjadi tempat berkumpulnya para pengajar dan mahasiswa medioker. Tidak ada lagi pemikir kelas dunia di sana.
Kebebasan. Saya kira, jika Pak Lah benar-benar serius dengan proyek Islam Hadhari, maka yang perlu diperhatikan adalah visi intelektual dari konsep ini. Peradaban Islam tak akan pernah terwujud jika yang mengusungnya adalah orang-orang yang justru anti-peradaban. Kaum konservatif dan puritan adalah orang-orang yang anti terhadap peradaban, karena merekalah yang selama ini memusuhi ikon-ikon kemajuan dalam Islam.
Peradaban Islam di masa silam adalah sebuah peradaban yang plural. Dia milik semua orang. Berbagai keyakinan dan mazhab pemikiran tumbuh dengan subur, dan mendapat perlindungan dari negara. Para intelektual dan pemikir memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pandangan-pandangannya. Suasana seperti inilah yang memungkinkan para pemikir bebas seperti Ibn Sina dan Ibn Rushd muncul.
Jika Malaysia benar-benar ingin menerapkan visi “Islam Hadhari” maka yang harus dilakukan adalah menciptakan ruang kebebasan bagi semua elemen bangsa untuk berkiprah dan memberi kontribusi. Pemikiran kreatif dan inovasi tak akan lahir jika masyarakat hidup dalam kungkungan ketakutan dan ancaman.
Seperti Indonesia, para tokoh agama di Malaysia kini mengidap penyakit “takut kebebasan.” Pada satu sisi, mereka menginginkan dan selalu terobsesi dengan kejayaan peradaban Islam di masa silam, tapi pada sisi lain, mereka menolak pencapaian-pencapaian penting dalam peradaban itu.
Kejayaan peradaban Islam dicatat dengan tinta emas karena tokoh-tokoh raksasa seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Razi, Ibn al-Rawindi, Ibn Haitham, Al-Khawarizmi, dan Ibn Rushd. Sayangnya, bagi para ulama modern, nama-nama ini dianggap heretik (bid’ah) yang harus dijauhi.
Bahkan, lebih dari itu, para ulama tersebut memusuhi siapa saja yang mempelajari atau berusaha menghidupkan ajaran para tokoh besar itu. Filsafat diharamkan, tasawuf dilarang, para pembaru Islam difitnah, dan anak-anak muda yang mengidolakan Ibn Rushd dikecam. Kaum konservatif itu rindu pada kejayaan peradaban Islam, tapi pada saat yang sama ingin membuang seluruh ikon kemajuan itu.
Abdullah Badawi, saya kira, harus menyadari hal itu. Tidak mudah membangun “Islam Hadhari” selama kaum konservatif masih terus mendominasi paradigma pemikiran kaum Muslim. Islam Hadhari hanya bisa dibangun di atas landasan kebebasan dan penghormatan pada hak-hak individu. Jika unsur ini diabaikan, jangan pernah bermimpi bahwa Islam Hadhari akan bisa terwujud.
19 April 2010, 06:00
