Anak Kandung Pemikiran Cak Nur
Source: http://www.gatra.com/2006-08-05/artikel.php?id=96806
Gatra Nomor 37 Beredar Kamis, 27 Juli 2006
Pepatah “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama” masih tetap relevan. Cendekiawan Nurcholish Madjid, 29 Agustus nanti, genap setahun meninggalkan alam fana ini. Tapi nama besarnya tak pernah kering diperbincangkan.
Pemikirannya tentang pluralisme agama, misalnya, selalu mengundang pro dan kontra. Ketika Majelis Ulama Indonesia beberapa waktu lalu mengeluarkan fatwa tentang haramnya pandangan pluralisme agama, perdebatan kembali bermunculan.
Memperingati satu tahun kepergian Cak Nur, begitu Nurcholish Madjid disapa, Universitas Paramadina menggelar berbagai acara. Dari seminar, diskusi, hingga kajian tentang pemikiran-pemikirannya.
Selama dua hari, Rabu dan Kamis pekan lalu, bertempat di Universitas Paramadina, Jakarta, seminar tentang “Kebebasan Ekspresi di Tengah Ancaman Fanatisme” digelar. Sejumlah pakar, antara lain Yudi Latif, Dawam Rahardjo, Kautsar Azhari Noer, Budhy Munawar-Rachman, Luthfi Assyaukanie, dan Daniel Dhakidae, hadir sebagai pembicara. Rata-rata mereka mengelaborasi pemikiran Cak Nur tentang kebebasan. Jumat malam dan Sabtu pagi pekan lalu, diskusi dan kajian tentang pemikiran Cak Nur masih dilanjutkan, dengan narasumber yang berbeda.
Di balik seminar, diskusi, dan kajian tentang pemikiran Cak Nur, ada yang menyoal tentang kiprah pemikiran para kawula muda pasca-Cak Nur. Islam Liberal (Islib), misalnya. Anak-anak muda yang dikomandani Ulil Abshar-Abdalah itu sering disebut-sebut sebagai penerus Cak Nur. “Cak Nur berharap Ulil bisa meneruskan pemikiran-pemikirannya,” tutur Budhy Munawar-Rachman.
“Ulil memenuhi syarat yang ditentukan oleh Cak Nur,” lanjut Budhy, penulis buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid yang tebalnya mencapai 4.000 halaman itu. Menurut Budhy, Ulil menguasai khazanah klasik, bisa baca kitab kuning, dan mengakomodasi paham kemodernan. “Islib sangat diuntungkan dengan dukungan media massa,” paparnya.
Sejak awal, Cak Nur ingin pikiran-pikirannya bisa dibumikan. Untuk menjabarkan pikiran-pikirannya, pada 1986 ia mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina. Tahun 1997/1998, Universitas Paramadina didirikan. Yayasan Wakaf Paramadina membuat kelas-kelas berupa kursus-kursus keislaman. Setiap bulan diadakan kajian dengan tema-tema khusus dan mendatangkan para pakar. Kajian bulanan inilah yang menjadi panggung buat Cak Nur. Tapi, lagi-lagi, Cak Nur masih bergerak di tataran wacana.
Inilah yang, bisa jadi, membedakan Cak Nur dengan anak-anak muda yang bergabung di Islib. Yudi Latif, Chairman Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, mencoba memetakan posisi Cak Nur. Menurut Yudi, Cak Nur adalah kelanjutan dari Haji Agus Salim dan Tjokroaminoto. “Mereka berdua yang mengenalkan sosialisme Islam,” kata Yudi. Sedangkan sekarang, di masa anak-anak Islib, kapitalisme sudah merajalela. “Cak Nur berada di tengah-tengah,” Yudi menambahkan.
Karena itu, menurut Yudi, Islib itu bisa turunan, bisa juga deviasi dari Cak Nur. “Cak Nur itu tak pernah membuat atau menggerakkan massa, sedangkan Islib sudah ada kecenderungan ke arah pembentukan massa,” ujarnya. “Kalau itu yang terjadi, akan muncul fanatisme. Ini yang tak dilakukan oleh Cak Nur,” kata Yudi.
Selain itu, masih kata Yudi, Cak Nur tetap di tataran wacana. “Sedangkan Islib sudah masuk ke wilayah kongkret dan pemihakan pada kapitalisme,” katanya. Beberapa waktu lalu, ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, Ulil dan kawan-kawan memasang iklan di sebuah harian Ibu Kota yang isinya mendukung kebijakan pemerintah itu.
Lain lagi komentar Adian Husaini. Menurut mantan wartawan yang kini kandidat doktor bidang pemikiran dan peradaban Islam di International Institute of Islamic Though and Civilization-International Islamic University Malaysia itu, Islib lebih vulgar dan tidak fokus. Apa saja dikomentari Islib. “Mereka menghujat syariat Islam, tapi membela kapitalisme,” ujarnya. Anak-anak Islib mencoba mendekonstruksi atas ayat-ayat Al-Quran. “Padahal, gurunya saja tidak sampai sejauh itu,” tuturnya. Kebablasan?
20 January 2007, 06:00