Go to content Go to navigation Go to search

Ritual Ulang Tahun

Pagi ini, tiga hadiah berbungkus kertas kado berdiri di atas meja, di samping kue berhias lilin kecil. Rupanya, istri dan anak-anakku telah menyiapkannya sejak pagi buta. Ini adalah ritual keluarga yang biasa kami lakukan, setiap ada dari salah satu kami yang berulang tahun.

Kebiasan ini sudah dimulai sejak tujuh tahun silam, ketika kami hidup di Melbourne. Perayaan ulang tahun keluarga selalu khidmat, meski kami cuma merayakannya berlima saja: aku, Titi istriku, Gabriel, Melika, dan Amadea anak-anakku. Aku selalu menikmati momen-momen seperti ini, karena pada saat inilah kami semua saling mengungkapkan perasaan.

Setiap hadiah selalu dibumbui dengan ungkapan dari anak-anakku yang ditulis tangan dan dikembangi dengan warna-warni gambar. Yang paling lucu dari Dea, bontotku yang baru berusia 5 tahun. Tampaknya dia berusaha keras untuk menuliskan ini: “Happy birthday Daddy—from Dea.” Bunga ada di sekujur kertas putih yang tampaknya dia sobek dari buku tulisnya.

Melika menulis lebih panjang: “Happy Birthday, Dad. Thank you for taking care of us and have a wonderful Birthday. Love, from Melika.” Kertas itu tak lagi menyisahkan putih, karena penuh dengan coretan warna-warni.

Yang menyentuh datang dari Gabriel, anak pertamaku yang baru saja genap 12 tahun pada bulan lalu. Dia membuat catatan agak panjang. Di keluarga, dialah penyair kami pada momen-momen seperti ini. Dia menulis sebagai berikut:

“Dad, have a happy birthday from Me, Mom, Dea, and Melika. I hope you like our present. It’s not much we can give you. Because we can never repay the good deeds yo’ve done until now. And this is all we can give you. I hope you get a better job and live a happy life from now on. From your beloved family.”

Di bagian bawah tulisan, Gabriel menggambar ini:

Dad + Mom + Kids = Happy Family :)

Dad + Mom + Kids + Holiday = Happiest Family :))

Anak-anakku memang menyukai liburan. Dan bagi mereka, liburan adalah purgatorio dari rutinitas dan kepenatan hidup.

Ritual tahunan itu selalu berjalan cepat. Setelah lilin ditiup dan doa dipanjatkan, anak-anakku melesat menuju ke sekolah mereka masing-masing.

Jakarta, 27 Agustus 2008.

27 August 2008, 11:15

Share your Opinion

  Textile Help