Go to content Go to navigation Go to search

Akar-Akar Liberalisme dalam Islam

(The Roots of Islamic Liberalism)

Selamat pagi Saudara, Anda berjumpa lagi dengan saya, Hamid Basyaib dalam Forum Freedom. Acara ini merupakan satu kerjasama antara Freedom Institute dan Radio 68H yang dipancarkan ke beberapa puluh radio lain di seluruh Indonesia. Tema kita pagi ini adalah “Akar-akar Liberalisme dalam Islam” khususnya kita akan melihat dalam konteks Indonesia. Minggu lalu kita sudah membahas akar-akar liberalisme dari sudut teologinya secara umum, bukan dikaitkan pada negara tertentu dan pagi ini kita akan melihat fenomena tersebut dalam kasus ndonesia.

Source: Forum Freedom 37, 30 Januari 2006

22/04/10 05:00 AM

Wawancara Tokoh: Islam, Demokrasi, dan Liberalisme

Sesuatu yang pejoratif belum tentu salah, dan sesuatu yang kontroversial belum tentu keliru. Masalahnya adalah masyarakat kita itu yang belum bisa menerima. Sama seperti orang-orang Masyumi dan kaum santri pada tahun 50-an belum bisa menerima demokrasi, dan tidak bisa menolak konsep negara Islam. Sekarang ini hampir tidak ada orang yang mau menerima negara Islam. Artinya berbalik 180 derajat. Kalau sekarang mereka menolak demokrasi liberal, demokrasi yang sejati, liberal (yang saya maksud) bukan dalam arti ideologis. Demokrasi liberal adalah demokrasi yang konstitusional. Lebih tepat istilahnya adalah constitutional democracy. Dalam arti seperti itu saya kira lambat laun akan diterima oleh masyarakat. Karena itu merupakan tawaran yang paling ideal, dan bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat.

Source: http://www.psik-demokrasi.org/home.php?page=fullnews&action=view&id=76

17/04/10 08:00 AM

Islamic Studies di Barat

(Islamic Studies in the West)

Kajian keislaman pada dasarnya seperti kajian kewilayahan. Ia bersifat pasang-surut. Tergantung permintaan pasar dan suasana politik. Sebelum 9/11, kajian keislaman di Amerika Serikat boleh dibilang sedang mengalami paceklik. Tapi setelah peristiwa itu, banyak orang yang ingin tahu tentang Islam. Lalu, banyak universitas di Amerika menawarkan mata-kuliah tentang Islam. Kini, kajian keislaman di Amerika, boleh dibilang, lebih meriah ketimbang tahun 1980-an, ketika Fazlur Rahman, Ismail al-Faruqi, dan Sayyid Hossein Nasr, mendominasi studi keisalaman di negeri itu.

Source: Afkar, 13 Juli 2006

15/04/10 05:00 AM

Luthfi Assyaukanie: "To be on the safe side, don’t use Islamic issues"

SINCE it was first introduced by Nurcholish Madjid back in the early 1970s, the term “secularization” has become a topic of hot debate among Muslims in Indonesia. Today, Luthfi Assyaukanie says that Indonesian Muslims are more open and have a positive attitude towards political secularization. Luthfi made the conclusion in his doctoral dissertation, which he completed a year ago at Melbourne University. Attention is now being focused on the dissertation since it was named one of four dissertations to have received the Chancellor’s Prize, two weeks ago. Luthfi becomes the first foreign student to receive the award.

Source: Tempo, No. 10/VIII/November 06-12, 2007

11/10/09 07:52 PM

Luthfi Assyaukanie: "Kalau Mau Selamat, Jangan Gunakan Isu Islam"

Sejak diperkenalkan pertama kali oleh Nurcholish Madjid pada awal 1970-an, istilah sekularisasi menjadi wacana hangat kaum muslim Indonesia. Pro dan kontra bertembung. Kini, setelah lebih 30 tahun berlalu, Luthfi Assyaukanie membeberkan bahwa umat Islam Indonesia sudah lebih terbuka dan bersikap positif terhadap sekularisasi politik.

Source: Tempo, 5 November 2007

07/03/09 05:20 AM Comment [1]