Go to content Go to navigation Go to search

Silabus Perkembangan Pemikiran Modern 2

Departemen Falsafah dan Agama
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 71-73, Jakarta 12780

Silabus
Perkembangan Pemikiran Modern dalam Islam I
Pengajar : Luthfi Assyaukanie

  1. Pemikiran Islam Kontemporer. Pertemuan ini akan membahas pengantar umum tentang pemikiran Islam kontemporer. Batasan dan wilayah pembahasan yang akan menjadi fokus mata kuliah ini juga akan dibincangkan. Tema utama yang akan dibahas adalah perkembangan pemikiran Islam sejak tahun 60-an. Penjelasan singkat tentang pendekatan terhadap tokoh-tokoh dan tema-tema utama pemikiran Islam juga akan menjadi pembahasan dalam pertemuan awal ini.
  2. Pembaruan Pemikiran Islam di Indo-Pakistan. Akan dibahas pengantar umum awal-awal kebangkitan Islam di Indo-Pakistan. Pendekatan historis akan menyita waktu dalam pembahasan ini. Tradisi intelektual yang berkembang di Indo-Pakistan sejak era Mughal Islam akan diberikan secara singkat sebagai pengantar memasuki era kebangkitan Islam di anak benua tersebut.
  3. Sayyid Ahmad Khan. Pandangan dan gagasan tentang teologi dan politik Sayyid Ahmad Khan akan menyita pertemuan ini. Konsep Ahmad Khan tentang Tuhan, Nabi, dan Wahyu akan dibahasa secara spesifik. Juga, kiprahnya dalam bidang politik dan pendidikan akan disoroti secara mendalam. Gagasan Ahmad Khan tentang Neo-Kalam atau Ilmu Kalam Baru akan dijelaskan secara analitis dan kritis.
  4. Muhammad Iqbal. Filsafat Iqbal tentang Tuhan, manusia, dan alam akan menjadi perhatian utama pertemuan ini. Karya monumentalnya, Reconstruction of Religious Thought akan didiskusikan secara spesifik. Beberapa karya Iqbal yang lain, menyangkut metafisika dan puisi sufi juga akan dibincangkan. Gagasan pendirian negara Islam Pakistan juga akan menjadi sorotan utama.
  5. Abul A’la al-Maududi dan Teori Negara Islam. Sebagai intelektual, Maududi memainkan peran yang sangat penting dalam percaturan pemikiran Islam modern. Bukan hanya di wilayah India dan Pakistan, tapi juga di negara-negara Muslim lainnya. Gagasannya tentang “negara Islam” sangat mempengaruhi intelektual dan aktifis Islam setelahnya. Di Mesir, gagasan-gagasan Maududi menyita perhatian tak kurang dari Sayyid Qutb dan gerakan Ikhwan al-Muslimin.
  6. Fazlur Rahman tentang Tradisi dan Modernitas. Sebagai pewaris tradisi pemikiran Ahmad Khan dan Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman memiliki peran yang tak kalah pentingnya dari kedua pendahulunya itu. Berbeda dari para intelektual Indo-Pakistan sebelumnya, isu-isu pemikiran yang diangkat Rahman sangat menyentuh persoalan-persoalan sehari-hari kaum muslim. Selain itu, pendekatan kritis yang digunakan Rahman dalam memahami tradisi Islam sambil menggunakan tradisi positif Islam sendiri, membuatnya menjadi tokoh Neo-modernis yang sangat piawai mengupas isu-isu tentang Islam dan Kemodernan.
  7. Mohammed Arkoun dan Kritik Nalar Islam. Di tangan Arkoun, wacana pemikiran Islam kontemporer menjadi berbeda. Intelektual asal Aljazair yang sangat mengagumi Immanuel Kant, filsuf Jerman, ini, menggunakan metodologi kritis untuk mendekati setiap studinya terhadap pemikiran Islam. Hasilnya, Arkoun mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya biasa (common question uncommon answer). Dalam hal kritisisme, Arkoun memang melampaui para intelektual muslim segenerasinya.
  8. Hassan Hanafi dan Pembaruan Ilmu-ilmu Keislaman. Salah satu proyek intelektual yang menjadi concern Hassan Hanafi adalah menghidupkan kembali tradisi keilmuan rasional Islam. Jika Alghazali berusaha menghidupkan ilmu-ilmu agama (‘ulum al-din), maka Hanafi berusaha menghidupkan ilmu-ilmu umum (‘ulum al-‘aqliyyah). Dari sini, ia kemudian membangun satu ilmu kalam baru (min al-aqidah il al-tsaurah), hermenetika Islam(ushul fiqh al-jadid) dan oksidentalisme (‘ilm al-istighrab).
  9. Islam dan Sekularisme di dunia Arab. Wacana Islam dan Sekularisme di dunia Arab tak pernah mati. Kendati isu ini pernah sangat populer di awal-awal abad ke-20, tema-tema Islam dan Sekularisme masih terus bergema hingga kini. Tentu saja dengan nuansa dan warna yang berbeda. Jika di masa silam, isu itu dikaitkan secara erat dengan bidang politik –sebagai konsekwensi logis dari ide penutupan khilafah di Turki—di masa sekarang, sekularisme berkaitan erat dengan cara pandang, sikap, dan perilaku kehidupan kaum Muslim, baik yang menyangkut wilayah pribadi maupun publik.
  10. Pemikiran Islam di Indonesia: Pembaruan di Minangkabau. Minangkabau boleh dibilang sebagai tanah yang amat subur bagi pemikiran Islam di nusantara. Pembaruan di kawasan ini telah dimulai jauh sejak awal abad ke-19. Puncaknya terjadi pada awal abad ke-20 ketika gerakan pembaruan Islam yang lebih dikenal sebagai gerakan Kaum Muda berupaya berontak dari tradisi, adat, dan KaumTua yang berusaha mempertahankan sikap beragama dan kehidupan yang tradisional dan konservatif. Dari sinililah kemudian muncul para pembaru semacam Abdullah Ahmad, Muhammad Jamil Djambek, Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, dan HAMKA.
  11. Pemikiran Islam di Indonesia: Pembaruan di Jawa. Ada dua fenomena kebangkitan Islam di kawasan Jawa. Pertama, sebagai perluasan dari model pembaruan Islam di Minangkabau. Dari sini, kemudian muncul gerakan yang lebih dikenal dengan sebutan gerakan modernisme Islam. Salah satu fenomena utamanya adalah munculnya organisasi keagamaan Muhammadiyah yang berupaya melakukan perubahan lewat jalur pendidikan. Kedua, sebagai respon dari gerakan pembaruan model Minangkabau. Inilah yang biasa disebut sebagai gerakan tradisionalisme Islam. Salah satu fenomenanya adalah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur.
  12. Nurcholish Madjid dan Gerakan Neo-Modernisme Islam. Pemikiran Indonesia pasca tahun 70-an ditandai dengan munculnya intelektual santri yang berupaya berbicara secara lebih intensif lagi tema-tema modern. Salah seorang yang menjadi pionir dalam gerakan ini adalah Nurcholish Madjid atau yang lebih akrab disebut Cak Nur. Pertemuan ini akan mendiskusikan fenomena pemikiran Islam pasca tahun 70-an dengan mengambil Cak Nur sebagai figur sentralnya.
  13. Islam Liberal di Indonesia: Prosepek dan Tantangan. Islam Liberal merupakan wacana lanjutan dari fenomena pemikiran Islam yang telah dimulai sejak tahun 70-an. Gerakan ini hadir dalam sikap dan penyikapannya yang baru terhadap isu-isu agama, masyarakat, dan negara. Prospek dan tantangan gerakan ini ke depan akan disoroti secara analitis dan kritis.

Referensi:

  1. Mukti Ali, Pemikiran Islam di India dan Pakistan
  2. Mohammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Keagamaan dalam Islam
  3. Fazlur Rahman, Islam
  4. Fazlur Rahman, Tradisi dan Modernitas
  5. Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas
  6. Mohammed Arkoun, Rethinking Islam
  7. Hassan Hanafi, Oksidentalisme
  8. Hassan Hanafi, Kiri Islam
  9. Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban
  10. Charles Kurzman, Islam Liberal

3 July 2004, 11:26